ROGRAM MBG BAGUS NAMUN PELAKSANAAN BERANTAKAN DAN BANYAK KEJANGGALAN - .

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 07 Mei 2026

ROGRAM MBG BAGUS NAMUN PELAKSANAAN BERANTAKAN DAN BANYAK KEJANGGALAN

Bandung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan pemerintah hingga kini masih menjadi perbincangan hangat dan memicu pro dan kontra di berbagai lapisan masyarakat, baik di media sosial maupun platform berita. Di tengah dukungan yang ada, tidak sedikit pihak yang menilai program ini justru terkesan pemborosan anggaran dan tidak tepat sasaran.

 

Hal senada disampaikan oleh Roni Faozan, seorang pengamat dan influencer yang kerap memberikan pandangan kritis terhadap kebijakan pemerintah, khususnya terkait implementasi program Makan Bergizi Gratis.

 

Konsep Baik, Pelaksanaan Buruk

Dalam wawancaranya, Roni menegaskan bahwa secara konsep, program MBG sebenarnya adalah hal yang baik dan bermanfaat. Namun menurutnya, eksekusi di lapangan justru terlihat berantakan dan terkesan dipaksakan, terutama di tengah kondisi ekonomi negara maupun dunia yang saat ini sedang tidak stabil.

 


"Menurut saya Program MBG itu baik, tapi pelaksanaannya justru berantakan dan terkesan dipaksakan di tengah situasi negara bahkan dunia sedang tidak stabil," ujar Roni.

 

Ia menyoroti adanya pemangkasan anggaran di beberapa sektor penting nasional yang kemudian dialihkan untuk program ini, namun realisasinya banyak yang terbuang sia-sia.

 

"Banyak anak-anak yang bosan, lalu makanan begitu banyak dibuang. Itu jelas membuang anggaran negara dengan percuma," tambahnya.

 


Anggaran Faktor Pendukung Lebih Besar dari Gizi

 

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan tajam Roni adalah pembagian anggaran yang dinilai tidak proporsional. Ia menilai, biaya yang dikeluarkan untuk faktor pendukung justru jauh lebih besar dibandingkan untuk standar gizi makanan itu sendiri.

 

"Anggaran yang justru lebih besar digunakan untuk faktor pendukung MBG, dibanding standar gizinya. Contohnya seperti pembelian motor listrik, kaos kaki, sepatu, dan lain-lain yang nilainya fantastis," ungkapnya.

 

Dualisme Penegakan Hukum

 

Roni juga menilai terdapat kejanggalan dan ketidakadilan dalam penegakan hukum terkait kasus keracunan makanan. Ia menyoroti bagaimana kasus serupa di lingkungan luar bisa berujung pada proses hukum yang tegas, namun berbeda nasibnya dengan program MBG.

 

"Seperti yang kita tahu, banyak contoh jajanan di luar yang menyebabkan keracunan, pembuat dan penjualnya langsung menjadi tersangka bahkan masuk penjara. Sedangkan di MBG, sejak program itu berjalan sampai saat ini beribu-ribu anak keracunan, tetapi hal itu seolah menjadi hal biasa dan tidak penting," tegasnya.

 

Bahkan, ia menyinggung pernyataan yang menyebutkan kejadian tersebut hanya sekian persen, sehingga program dinilai layak dinyatakan berhasil. Hal ini dinilainya sebagai bentuk pengabaian terhadap keselamatan dan kesehatan anak-anak.

 

Demokrasi Melemah dan Ajakan untuk Kritis

 

Lebih jauh, Roni Faozan menilai bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi, termasuk nilai-nilai demokrasi yang dinilainya mulai melemah di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.

 

Di akhir wawancara, pria ini menyampaikan harapannya agar seluruh masyarakat lebih proaktif terhadap segala perkembangan kebijakan pemerintah. Ia mengajak publik untuk tidak ragu menyuarakan pendapat demi kemajuan bangsa.

 

"Saya menyampaikan ini tanpa unsur keberpihakan atau anti terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran. Saya akan terus bersuara untuk mengoreksi dan mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah yang dipandang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat secara nyata," pungkas Roni Faozan.

Pewarta bang Olay

Tidak ada komentar: