KEKERINGAN MELANDA SAWAH WARGA RW 13 DESA MANDALAWANGI, PETANI TERANCAM GAGAL PANEN - .

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Jumat, 03 Juli 2026

KEKERINGAN MELANDA SAWAH WARGA RW 13 DESA MANDALAWANGI, PETANI TERANCAM GAGAL PANEN



 

Bandung Barat, – Kekeringan parah melanda areal persawahan di lingkungan RW 13, Kampung Pabuaran, Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Sebanyak 5 hektar sawah garapan petani saat ini mengalami kekurangan air yang cukup serius, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya gagal panen yang berujung pada kerugian ekonomi bagi warga setempat.

 

Para petani menyampaikan keluh kesahnya mengingat penghidupan dan kebutuhan sehari-hari mereka sangat bergantung pada hasil panen padi. Dengan kondisi yang kering kerontang ini, mereka merasa bingung dan khawatir tidak memiliki sumber pendapatan lain untuk menutupi biaya hidup dan biaya pengelolaan sawah yang telah dikeluarkan sebelumnya.

 


“Seluruh penghasilan kami hanya mengandalkan hasil panen padi. Kalau sawah kering begini dan gagal panen, kami bingung harus berbuat apa. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari saja kami andalkan dari hasil ini,” ujar salah seorang petani mewakili warga.

 

Penyebab utama terjadinya kekeringan ini adalah terganggunya suplai air irigasi yang menjadi satu-satunya sumber pengairan sawah mereka. Aliran air yang dikirim melalui saluran irigasi saat ini tidak berjalan normal dan terkendala, meskipun pihak berwenang telah mengetahui kondisi tersebut dan sempat melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Para petani berharap segera ada solusi terbaik agar masalah ini tidak terulang kembali di musim tanam mendatang.

 


Ketua Forum RW Desa Mandalawangi, Syafrizal S.Pd., MM, menyatakan keprihatinannya atas kondisi yang dialami warga binaannya. Ia berharap pihak terkait dapat segera memberikan perhatian serius dan mencari jalan keluar terbaik demi menyelamatkan usaha tani para petani.

 

“Kami sangat prihatin melihat kondisi sawah yang kering ini. Semoga instansi terkait segera memperhatikan nasib para petani kami agar kerugian yang lebih besar dapat dihindari,” tegasnya.

 

Menanggapi permasalahan ini, awak media telah melakukan konfirmasi dan koordinasi dengan Ketua Kelompok Penyuluh Pertanian setempat, Ramdan. Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dan memberikan langkah antisipasi kepada para petani.

 


“Kami dari Dinas Pertanian sudah melaporkan kondisi ini ke atas. Untuk mengurangi risiko kerugian, kami menyarankan dan mengusahakan agar para petani mendaftarkan lahannya ke dalam program AUTP atau Asuransi Usaha Tani Padi. Informasi lengkapnya bisa ditanyakan langsung ke penyuluh pertanian di lapangan,” jelas Ramdan.

 

Terkait perbaikan saluran air, ia menambahkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum. Perbaikan dan normalisasi jaringan irigasi direncanakan akan direalisasikan sekitar bulan Oktober 2026, mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang pengelolaan irigasi guna mendukung program ketahanan pangan nasional.

 


Sampai saat ini, para petani masih berharap agar aliran air segera pulih sebelum tanaman padi benar-benar rusak, serta menanti terealisasinya perbaikan infrastruktur irigasi agar masa depan usaha tani mereka lebih terjamin.

 

 

 

Sumber: Liputan Lapangan

Dilaporkan oleh: Nanang Suhandar

Media: Indonesia Pers Channel




Tidak ada komentar: