BANDUNG, 9 Oktober 2026 – Indonesia Pers Channel – Di tengah maraknya hubungan percintaan di kalangan masyarakat muda saat ini, banyak orang salah mengartikan ikatan yang sebenarnya hanya berputar di sekitar uang dan kebutuhan fisik saja. Sebuah pandangan reflektif muncul untuk mengajak orang‑orang merenungkan apakah hubungan yang dijalani benar‑benar didasari rasa cinta, atau hanya transaksi yang tidak disadari.
Banyak orang pada awalnya percaya bahwa pasangannya memiliki rasa sayang yang tulus. Namun pola perilaku yang sering muncul menunjukkan hal sebaliknya: ketika tanggal tua dan kondisi keuangan menipis, pasangan tiba‑tiba tampak sibuk dan menjauh. Sebaliknya, tepat saat hari gajian tiba, tiba‑tiba muncul ucapan rindu dan kedekatan kembali terasa hangat.
Pandangan ini menyampaikan bahwa kita tidak boleh langsung menyebut diri sebagai korban. Pihak yang mengeluarkan uang juga memiliki kebutuhan tersendiri: membutuhkan teman pendamping, pelukan, serta perasaan diinginkan dan diterima. Kedua pihak saling memenuhi kebutuhan tertentu, bukan saling menerima keberadaan satu sama lain sebagai manusia utuh.
“Jadi ini bukan cinta, ini jual‑beli. Dia jual perhatian, kamu beli kehangatan. Bedanya, kamu masih berani menyebutnya hubungan,” demikian salah satu poin pemikiran yang beredar di kalangan pembahas hubungan sosial.
Ada pertanyaan sederhana untuk menguji ikatan tersebut: bayangkan jika uang yang dimiliki habis besok, siapa yang masih akan hadir mendampingi. Menurut pandangan ini, seringkali tidak ada lagi orang yang muncul. Apabila setiap kedekatan dan pelukan harus selalu dibayar, maka itu bukan hubungan pacaran, melainkan layanan berlangganan.
Pertanyaan penutup yang mengajak merenung adalah: jika dia hanya membutuhkan uangmu, sedangkan kamu hanya membutuhkan kehadiran fisiknya, lalu siapa yang benar‑benar membutuhkan dirimu sebagai manusia dengan segala kelebihan dan kekuranganmu?
Para pengamat hubungan sosial menyatakan bahwa pandangan ini bukan bermaksud menuduh semua hubungan yang ada, melainkan menjadi peringatan agar setiap orang lebih jeli melihat apakah ikatan yang dijalani memiliki dasar rasa hormat satu sama lain, atau hanya bergantung pada kemampuan finansial semata.
Redaksi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar