Indonesia PERS Channel, Sipahutar, Tapanuli Utara - Di balik sejuknya udara Sipahutar, aroma pelanggaran hukum tercium menyengat. Aktivitas pengolahan kayu yang diduga ilegal terus beroperasi tanpa rasa takut di Jalan Rias, lintas Tarutung–Sipahutar. Kondisi ini membuat warga mengeluh, jalan rusak, lingkungan tercemar, dan hukum seolah tutup mata.
Warga setempat mengeluhkan aktivitas truk-truk pengangkut kayu yang keluar masuk tanpa henti. Debu berterbangan dan genangan air di mana-mana. "Kalau hujan, becek parah! Pernah hampir jatuh karena licin," ujar salah satu warga dengan nada kesal.
Ketika wartawan mencoba meminta konfirmasi kepada pengusaha kayu bernama Mangiring Simatupang, yang datang justru amarah. Sikap arogan tersebut menimbulkan tanda tanya besar di kalangan publik. Ada apa di balik bisnis ini? Mengapa begitu berani melawan media?
Menurut pemerhati lingkungan, Harjono Simanjuntak, arogansi seperti ini biasanya bukan tanpa alasan. "Kalau izinnya legal, kenapa takut diperiksa? Indikasinya kuat, ini praktik illegal logging. Dan biasanya… sudah ada yang 'membekingi'," ujarnya.
Selain itu, limbah sisa pengolahan kayu juga mencemari lingkungan. Air limbah mengalir sembarangan ke parit warga. Ironisnya, pengusaha malah menyalahkan pemerintah atas kondisi ini.
Masyarakat kini menuntut aparat bertindak tegas. Jangan hanya rakyat kecil yang diseret, sementara mafia kayu tertawa di balik meja. Polda Sumatera Utara dan Polres Tapanuli Utara diminta turun tangan, tidak hanya menertibkan, tapi membongkar jaringan di balik bisnis haram ini.
Dari Sipahutar, terpampang potret buram penegakan hukum di negeri yang katanya menjunjung keadilan. Ketika uang bicara, hukum diam. Dan saat hukum diam, alam yang berteriak.
Suardi, Tim liputan melaporkan.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar